Wanita Pekerja Menurut Tinjauan Syariat (Kajian Akhwat DM)

25 August 2006 at 3:07 pm | In Taujih | 19 Comments

Apa yang mungkin muncul jika wanita bekerja?

1.

Waktu lebih banyak di luar rumah

2.

Pertemuan dengan keluarga lebih sedikit

3.

Pengaruh kejiwaan (depresi, letih, emosi, kenyamanan, dll)

4.

Kebutuhan lebih besar

5.

Muncul keinginan mempercantik diri

6.

Gagal dalam mendidik anak dan keluarga

7.

Sering menggoncangkan rumah tangga

8.

Ingin seperti orang lain

9.

Bercampur baur antara laki-laki dan perempuan secara berlebihan

10.

Berbagai fitnah

 

Etika Interaksi Wanita Pekerja

1.

Izin suami

2.

Menutup aurat

3.

Menundukkan pandangan dan tidak melembutkan suara

4.

Serius

5.

Tidak berdekatan berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahromnya

6.

Menjauhi perilaku maksiat

 

Tinjauan Syariat

A. Al Quran
1. AT-TAUBAH : 71

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

2. AN-NUR : 31

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atay saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

3. AL-AHZAB : 32-33

Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti oraang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

B.

Hadist

1. HR. At-Tabrani

“Perempuan tidak berhak keluar rumahnya melainkan jika ia terpaksa (karena satu hal penting) dan ia juga tidak berhak melalui jalan lalu lalang melainkan tepi-tepinya”

2. HR. Bukhari

“Sesungguhnya telah diizinkan Allah bagimu (wanita) keluar untuk sesuatu keperluan (yang dibenarkan oleh syara’)”

3. HR.Ahmad

“Tidak sekali-kali seorang wanita dan laki-laki menyendiri (berduaan) karena yang ketiganya adalaah syetan, kecuali disertai muhrim”

4. HR. Khatib

“Tiap istri yang keluar rumah tanpa izin suaminya, tetap berada dalam murka Allah sehingga kembali ke rumahnya atau dimaafkan oleh suaminya”

5. HR. Ahmad, At-Tabrani

“Tiap-tiap waniita yang menggunakan harum-haruman, kemudian keluar melewati kelompok kaum, supaya dicium baunya oleh kelompok itu, maka ia telah berzina dan setiap yang memandangnya telah (ikut) berzina”

 

Hikmah

Islam tidak melarang wanita bekerja selama :

1.

Mendapat izin suami

2.

Merupakan kebutuhan mendesak

3.

Terhindar dari fitnah

4.

Menjaga rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam islam

5.

Tidak berlebihan dalam mencari harta

6.

Mengupayakan tawazun (keseimbangan) antara kerja, diri dan rumah tangga

7.

Sesungguhnya nafkah adalah kewajiban suami, oleh karenanya wanita yang punya kesempatan bekerja, berpeluang pula untuk bisa mendapatkan pahala dari sedekah dan infak yang dia keluarkan

(:(( g usah kerja ta? ato gmn :( ???… Ya Allah selamatkanlah hamba …)

Ikhlas Dalam Niat

23 August 2006 at 9:53 am | In Hadist | 2 Comments

“Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapat sesuatu mengikut kepada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasulnya. Barang siapa yang hijrah untuk mendapatkan dunia atau karena seorang perempuan yang ingin dikawininya, maka hijrahnya itu mengikut kepada apa yang diniatkannya’.” (Muttafaq ‘Alaih)

Kuatkan hati, kuatkan iman …

23 August 2006 at 9:50 am | In Hadist | Leave a Comment

“Sesungguhnya besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai kaum, Allah uji dengan cobaan. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan Allah. Barang siapa yang marah, maka baginya kemarahan Allah.” (Riwayat Ibnu Majah)

Agar Keluarga Kita Menjadi Penghuni Surga

23 August 2006 at 9:25 am | In Taujih | 10 Comments

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapakah lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal ” (QS Ali Imran (3):133-136).

Surga? Tak satupun manusia yang tidak ingin surga. Namun, tidak semua manusia mau menyifati dirinya dengan sifat-sifat penghuni surga.

Surga, sebuah kata yang mampu mengobarkan semangat perjuangan generasi terbaik, para shahabat radhiyallahu ‘anhum agar dapat menjadi peghuninya, meski harus mengobarkan nyawa untuk meraihnya.

Namun, surga tidak gratis. Untuk memasukinya harus dengan tiket. Dan tiket masuknya adalah takwa dalam artian yang luas.

 

Kriteria Penghuni Surga

Ayat di atas memaparkan kriteria-kriteria orang yang bertakwa yang akan menghuni surga, yaitu :

1. Menafkahkan harta di waktu lapang maupun sempit
 

Salah satu cirri penghuni surga adalah ia suka berbagi. Selalu bersemangat untuk menafkahkan hartanya dalam kondisi apapun. Kelapangan tidak membuatnya sombong dan lupa terhadap saudaranya yang membutuhkan. Kesempitan tidak menjadikannya patah semangat berbagi dan banyak berkeluh kesah. Nilai-nilai takwa yang tertancap di hatinya mampu merobohkan kekokohan ‘tembok’ syahwat harta dan menghancurkan benih-benih kekikiran yang menyelimuti hati.

Karenanya menghidupkan ruhul ‘atha’ (semangat memberi/berbagi) dalam kehidupan rumah tangga adalah sebuah keniscayaan jika kita mengharapkan keluarga kita menjadi penghuni surga.

 

2.

Menahan amarah

 

Salah satu ciri penghuni surga adalah ia suka berbagi. Selalu bersemangat untuk menafkahkan hartanya dalam kondisi apapun. Kelapangan tidak membuatnya sombong dan lupa terhadap saudaranya yang membutuhkan. Kesempitan tidak menjadikannya patah semangat berbagi dan banyak berkeluh kesah. Nilai-nilai takwa yang tertancap di hatinya mampu merobohkan kekokohan ‘tembok’ syahwat harta dan menghancurkan benih-benih kekikiran yang menyelimuti hati.

Karenanya menghidupkan ruhul ‘atha’ (semangat memberi/berbagi) dalam kehidupan rumah tangga adalah sebuah keniscayaan jika kita mengharapkan keluarga kita menjadi penghuni surga.

Hanya pancaran sinar takwa yang mampu meredam dan meredupkan ‘nyala’ marah. Keperkasaan seseorang tidak ditandai dengan kekekaran otot tubuhnya, melainkan ditandai dengan “ kemampuan untuk mengendalikan diri di saat marah ” sebagaimana sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim (Tafsir Ibnu Katsir I/436).

3. Mema’afkan kesalahan orang
 

Seseorang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan oran g lain bukan saja menjadi hamba yang mulia dalam perspektif Robani dan Nabawi, tetapi juga disukai oleh sesama, termasuk keluarga.

Karenanya pantas ia menjadi penghuni surga di akhirat sebab ia telah menghadirkan surga dalam kehidupannya di dunia.

4. Apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah, tidak meneruskan perbuatan kejinya itu lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka
 

Orang yang bertakwa, calon penghuni surga bukanlah malaikat yang tanpa dosa. Ia manusia biasa, melekat padanya seluruh atribut kemanusiaannya. Hanya saja dominasi nilai-nilai positif (takwa) dalam dirinya mampu menjadikannya menjadi oran g cerdas dalam membaca situasi sehingga mengetahui benar apa yang mesti ia perbuat.

Selama seseorang ingat Allah, selama di hatinya terdapat deringan dzikir, dan selama di dalam ruhnya terdapat percikan istigfar, maka akan terbit kembali cahaya yang memancarkan sinar terangnya ke seluruh relung jiwa. Sehingga menyemangati pemiliknya untuk membuka lembaran-lembaran hidup baru dalam naungan ridha Illahi.

 

Agar seluruh anggota keluarga kita menjadi penghuni surga, kita harus mengerahkan seluruh waktu, tenaga, kemampuan dan harta kita untuk mengkondisikan, mendidik dan membina mereka sehingga mereka memiliki kriteria-kriteria tersebut di atas. Namun, semua itu perlu waktu dan harus kontinyu. Tidak semudah membalik telapak tangan. Wallahu a’alam bish showab

Dikutip dari Ummi No.4/XVII Agustus 2006

Ummu Habibah

12 August 2006 at 1:12 pm | In Artikel Islami | 4 Comments

Inilah sosok wanita yang patut dijadikan teladan bagi muslimah zaman sekarang. Bagaimana tidak? orang-orang terdekat dan dicintainya merupakan musuh baginya. Mereka berusaha memurtadkan dan memalingkannya dari jalan kebenaran. Dialah salah seorang ummul mukminin yang banyak diuji keimanannya.

Sosok tersebut adalah Ramlah binti Abu Sufyan, putri seorang pemuka Quraisy dan pemimpin orang-orang musyrik hingga penaklukan Mekah. Akan tetapi, Ramlah binti Abu Sufyan tetap beriman sekalipun ayahnya memaksa dirinya untuk kafir ketika itu. Abu Sufyan tak kuasa memaksakan kehendaknya, justru anaknya menunjukkan pendirian yang kuat dan kemantapan tekad. Beliau rela menanggung beban yang melelahkan dan beban berat karena memperjuangkan akidahnya.

Pada mulanya beliau menikah dengan Ubaidullah bin Jahsy, seorang  muslim seperti beliau. Tatkala kekejaman kaum kafir terhadap kaum muslimin, Ramlah hijrah menuju Habsyah bersama suaminya. Disanalah beliau melahirkan seorang anak perempuan, yang diberi nama Habibah. Dengan nama anaknya inilah beliau dijuluki (Ummu Habibah).

Ummu habibah senantiasa bersabar dalam memikul beban lantaran memperjuangkan diennya dalam keterasingan dan hanya seorang diri, jauh dari keluarga dan kampung halaman, bahkan terjadi musibah yang tidak dia sangka sebelumnya. Beliau bercerita, “Aku melihat dalam mimpi, suamiku dengan bentuk yang sangat buruk dan menakutkan. Aku pun terperanjat dan bangun, kemudian aku memohon perlindungan kepada Allah SWT dari hal itu. Ternyata tatkala pagi suamiku telah memeluk agama Nasrani. Kuceritakan mimpiku kepadanya, namun ia tidak menggubrisnya.”

Suaminya mencoba dengan segala kemampuan untuk memurtadkannya, namun Ummu Habibah tetap tak bergeming. Bahkan beliau justru mengajak suaminya untuk kembali ke Islam, walaupun ditolak mentah-mentah dan malah suaminya semakin asyik dengan khamr. Hal ini berlangsung hingga ia meninggal.

Hari-hari berlalu di bumi hijrah, dengan ujian-ujian berat menemani Ummu habibah. Terapi dengan keimanan yang dikaruniakan Allah SWT, dirinya mampu menghadapinya. Suatu malam, dia melihat dalam mimpinya ada yang memanggilnya “Wahai ummu mukminin…!”. Beliaupun terperanjat bangun. Beliau menakwilkan mimpi tersebut bahwa Rasulullah SAW kelak akan menikahinya.

Setelah selesai masa iddah-nya, tiba-tiba ada seorang budak wanita (jariyah) dari Najasyi yang memberitahukan kepada beliau bahwa Rasulullah SAW telah meminangnya. Alangkah bahagianya beliau mendengar kabar gembira tersebut, sehingga beliau berkata, “Semoga Allah memberikan kabar gembira untukmu.” Lantas karena senangnya, beliau menanggalkan gelang kakinya lalu diberikan kepada budak wanita yang membawa kabar tersebut. Setelah itu, beliau meminta Khalid bin Sa’id bin Al-‘Ash untuk menjadi wakil baginya menerima lamaran raja Najasy. Rasulullah bertemu dengannya pada tahun ke enam atau ke tujuh Hijriyah. Kala itu Ummu Habibah berumur 40 tahun.

Ummu Habibah menempatkan urusan agama pada tempat yang pertama. Beliau utamakan akidahnya daripada keluarga. Beliau menyatakan bahwa loyalitas beliau adalah untuk Allah dan Rasul-Nya bukan untuk seorang pun selain keduanya.

Dikutip dari majalah Nikah Vol. 5, No. 5, Agustus 2006

Koreksi diri …

12 August 2006 at 12:54 pm | In Taujih | 5 Comments

Proses memilih calon pasangan harus dimulai dengan pendekatan syariat, bukan pendekatan cinta kasih. Cinta kasih hanya menjadi sarana pelengkap, bukan bahan pendekatan sejati, apalagi tujuan. (Ustadz Umeir Lc., Staf Pengajar Pesantren Islam Al Irsyad, Tengaran, Salatiga)

Milad pertama di Jakarta :)

9 August 2006 at 8:41 am | In My Diary | 7 Comments

Kian hari kian dekat dengan saat kematian
ya Allah jadikanlah kematian hamba dan keluarga, kematian yang khusnul khotimah
moga di sisa usia ini membawa kebaikan bagiku, bagi agamaku, bagi dunia

hingga detik ini … sudah tak terhingga nikmat yg Engkau berikan
himpunkanlah hamba menjadi bagian orang-orang yang mudah bersyukur atas karunia nikmat-Mu
himpunkanlah hamba menjadi barisan orang-orang yang berada di jalan-Mu, jalan menuju keridhoan-Mu

Jazakumullah khoir katsir, Semoga Allah memberikan balasan yang baik utk teman-teman yang menguatkanku … teman-teman yang selalu mendoakanku :) … semoga kita dikumpulkan dalam jannah-Nya.amiin.
Abis shubuh dah dapet sms yg menyejukkan hati :)

Btw … komen plis … kasih kritikan tentang kekurangan yg bisa aku perbaiki… sbg cambuk utk menjadi mukmin yg berkualitas :) … klo bsa sekalian saran yah …

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.