Wanita-wanita itu

9 May 2006 at 9:19 am | Posted in Artikel Islami | Comments Off on Wanita-wanita itu

Seringkali kita mendengar nama Ummu Yasir, Ummu Sulaim, Ummu Amarah, ataupun Khansa’ ridhwanallah ‘alaihinna. Merekalah wanita-wanita yang merasakan sentuhan langsung tarbiyah nabawiyah, mereka adalah bagian dari generasi terbaik dalam kurun terbaik yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia. Tapi Islam dan warisan kenabian Muhammad saw, tidak berakhir pada kurun tersebut, ia terus bergerak bersama putaran roda zaman. Maka sejarah Islampun bertaburan nama-nama para pahlawan wanita dari berbagai zaman. Inilah beberapa diantaranya :
– Jullanar, hidup pada abad ke-7 H / 13 M, sepupu dan istri dari salah seorang panglima terbesar dalam sejarah Islam, Mudzaffar Qutz. Kedudukan dan nasabnya yang mulia tidak menghalanginya untuk ikut berlumur debu dalam jihad fisabilillah. Pada perang ‘Ain Jalut yang merupakan turning point kekuatan muslimin dalam menghadapi ekspansi Mongol, ia turut bertempur di medan perang hingga mendapatkan syahid.
Dikisahkan bahwa pada saat mendekati kematiannya, sang suami datang dan berseru padanya “Wahai kasihku !”, ia pun membalas dengan kata-kata yang mencerminkan kedalaman imannya, “Jangan kau katakan itu, tapi katakanlah duhai Islam”, dan pada hari itu , 25 Ramadhan 658 H / 6 Desember 1260 M, terangkatlah ruhnya ke surga, bergabung dengan kafilah para syuhada.
– Syaikhah Rahmah Al-Yunusiah, ia adalah permata Islam dari generasi muta’akhirin. Berbahagialah para muslimah di Indonesia karena memiliki hubungan kebangsaan dengan wanita asal Minangkabau ini. Pada tanggal 1 November 1923 M mendirikan Madrasah lil Banat (Perguruan Diniyah Putri) di Padangpanjang. Murid-murid sekolahnya yang berasal dari seantero Asia Tenggara tidak hanya diajari ilmu-ilmu keagamaan, tapi juga dididik untuk menghadapi penjajahan Belanda. Sikap perlawanan itu juga ditunjukannya dengan menolak bantuan dari pemerintah kolonial Belanda.
Sekolah putri yang beliau dirikan diadopsi oleh Al-Azhar sebagai model untuk sekolah Al-Azhar untuk putri (sekolahnya Noura dalam novel Ayat-Ayat Cinta, he he). Sebagai penghargaan, Al-Azhar memberikan gelar Syaikhah (Syaikh wanita) kepada beliau, tidak ada wanita lain hingga kini yang pernah mendapatkan gelar tersebut dari Al-Azhar.
– Prof. Dr. Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi, jika anda adalah penggemar karya-karya Quraish Shihab, nama Bintu Syathi tentu tidak asing lagi. Buku-bukunya kini menjadi rujukan bagi para mahasiswa tafsir dan sastra Arab. Karya tafsirnya, Tafsir Bintu Syathi, mungkin adalah satu-satunya kitab tafsir terkemuka yang pernah ditulis oleh seorang wanita. Pada tahun 1960-an beliau sering memberi kuliah dihadapan para sarjana di Roma, Aljazair, Baghdad, Khartoum, New Delhi, Rabat, dll. Tidak hanya menulis tentang tafsir, beliau juga melakukan studi tentang penyair-penyair kenamaan dari Arab. Beliau juga menulis biografi ibunda Rasulullah, para istri, para putri dan keturunan perempuan dari baginda Rasul. Tulisannya juga mencakup isu-isu kontemporer, termasuk perjuangan melawan imperialisme dan zionisme.
Lahir di Dumyat, delta Sungai Nil dan menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Fuad I, Kairo. Beliau pernah menjabat sebagai guru besar ilmu-ilmu Al-Qur’an di Universitas Qarawiyin dan guru besar sastra Arab di Universitas Kairo. Warisan terbesarnya selain kitab-kitab karyanya adalah metode yang digunakannya dalam menafsirkan Al-Qur’an (yang ia akui diperoleh dari guru besarnya di Universitas Fuad I yang kemudian menjadi suaminya, Amin al Khuuli).
– Lois Lamya Al-Faruqi, istri dari salah seorang cendekiawan muslim terbesar abad lalu, Ismail Raji’ Al-Faruqi. Dilahirkan pada tanggal 25 Juli 1926, memperoleh gelar B.A dalam bidang musik dari University of Montana (1948) dan M.A dalam bidang yang sama dari Indiana University (1949) dan selanjutnya menjadi staf pengajar di Indiana University. Beliau adalah seorang ahli dalam bidang seni dan budaya Islam, juga menulis beberapa artikel untuk menjelaskan posisi wanita dalam Islam dan mengkoreksi kekeliruan gerakan feminisme yang melanda dunia Islam. Bersama suaminya, beliau juga aktif mengkampanyekan kemerdekaan Palestina. Menjadi co-author bagi suaminya dalam penyusunan The Cultural Atlas of Islam, salah satu karya monumental dalam khazanah budaya Islam.
Buku tersebut benar-benar menjadi warisan terakhir dari mereka, sebab beberapa bulan setelah penerbitan buku tersebut, tepatnya 27 Mei 1986, sekawanan perampok (yang ditengarai sebagai agen-agen Mossad) menyusup masuk ke apartemen mereka dan membunuh mereka berdua. Namanya kini diabadikan oleh Society of Ethnomusicology, Indiana University sebagai nama penghargaan bagi mereka yang berkontribusi dalam bidang musikologi di dunia Islam.

Keempat nama di atas hanyalah sedikit dari mereka yang tidak hidup bersama Rasulullah, tapi insya Allah akan dikumpulkan bersama Rasulullah saw karena iman, ilmu, dan jihad yang mereka lakukan. Selama pelita Islam masih menyala, selalu akan lahir wanita-wanita luar biasa yang turut tampil mengusung panji-panji Islam dan menegakkan bangunan madrasah nabawiyah.
“ Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain……” (Ali Imran : 195)

Kaum wanita adalah saudara kaum laki-laki dalam keimanan (Hadits)

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: