sholat qadha’

14 July 2006 at 3:23 pm | Posted in Fiqih | 2 Comments

bagaimana kita tahu sholat apa yang ter-‘utang’ saat suci dari haid?karena ada yang mengatakan, jika kita suci pada waktu ashar, sholat yang harus di-qadha’ adalah dhuhur dan ashar
Salat yang terhutang (harus diqadha) di masa haid adalah:
1. Salat yang waktunya telah tiba dan Anda memiliki waktu yang cukup untuk salat. Namun Anda tidak menunaikannya sampai kemudian haid datang. Misalnya Anda mendapat haid pada pukul 13.00 (waktu zuhur). Sementara Anda belum melaksanakan salat zuhur padahal punya kesempatan untuk melaksanakannya sebelum mendapat haid. Dengan demikian, salat zuhur tersebut menjadi terhutang (harus diqadha).
2. Salat yang tidak segera Anda kerjakan ketika haid Anda telah selesai padahal Anda memiliki waktu yang cukup untuk mengerjakannya. Misalnya haid Anda berhenti pada jam 13. 00 zuhur. Tetapi, Anda tidak segera melaksanakan salat zuhur sampai masuk waktu Asar. Maka salat zuhur tersebut harus diqada.
Wallahu a’lam bi al-shawab.
sumber : http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/9/cn/19080

Advertisements

Pengucapan amiin sholat berjamaah

6 July 2006 at 10:52 am | Posted in Fiqih | 5 Comments

“Bila imam selesai membaca ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladhdhooolliin, ucapkanlah amiin [karena malaikat juga mengucapkan amiin dan imam pun mengucapkan amiin]. Dalam riwayat lain: “(apabila imam mengucapkan amiin, hendaklah kalian mengucapkan amiin) barangsiapa ucapan aminnya bersamaan dengan malaikat, (dalam riwayat lain disebutkan: “bila seseorang diantara kamu mengucapkan amin dalam sholat bersamaan dengan malaikat dilangit mengucapkannya), dosa-dosanya masa lalu diampuni.”
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa-i dan Ad-Darimi)

Syaikh Al-Albani mengomentari masalah ini sebagai berikut:
“Aku berkata: Masalah ini harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan dengan cara meninggalkannya. Termasuk kesempurnaan dalam mengerjakan masalah ini adalah
dengan membarengi bacaan amin sang imam, dan tidak mendahuluinya. (Tamaamul Minnah hal. 178)

Tawasul

5 July 2006 at 9:22 am | Posted in Fiqih | 12 Comments

Tawassul secara bahasa adalah mendekatkan diri kepada sesuatu dengan perantaraan sesuatu. Maksudnya adalah mendekatkan diri kepada Alloh SWT dengan mengerjakan apa-apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa-apa yang diharamkan. Allah SWT memerintahkan kita untuk bertawassul dalam beribadah.

Firman Allah SWT :Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS Al-Maidah : 35 )

Tawassul terbagi dua; tawassul masyru? atau tawassul yang diperbolehkan untuk dilaksanakan dan tawassul mamnu? atau tawassul yang dilarang.

Tawassul Masyru?

  1. Bertawassul kepada Alloh dengan nama-nama Alloh SWT atau sifat-sifat-Nya.

    Allah SWT berfirman:

?Hanya milik Allah asmaa-ul husna , maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna? ( QS. Al-A?raf : 180)

Tawassul tersebut dapat dilakukan dengan cara menyebut nama-nama atau sifat-sifat Alloh. Contohnya Anda berdo?a : Allohumma Inni As Aluka Bi Asmaaika Al-Husna An Taghfiroli.

  1. Bertawassul dengan cara memuji Alloh dan bersholawat kepada Nabi dipermulaan do?a.

    Hadits Rasulullah SAW :

Dari Fudholah bin ?Ubaid dari Nabi SAW, beliau mendengar sesorang berdo?Allah SWT dalam sholatnya tidak memuji Alloh dan bersholwat kepada Rasulullah SAW terlebih dahulu. Beliau berkata : ?Orang itu tergesa-gesa? Kemudian memanggilnya dan berkata padanya: ?Apabila salah seorang diantar kamu sholat hendaklah dia memulai dengan bertahmid kepada Alloh dan memuji pada-Nya kemudian bersholawatlah pada Rasulullah SAW Kemudian setelah itu berdo?alah sesuai dengan keinginanmu? Fudholah berkata: dan Rasulullah SAW pernah mendengar sesorang sedang sholat kemudian ia memuji Alloh dan bertahmid pada-Nya serta bersholawat kepada kepada Nabi Muhammad SAW, maka beliau berkata padanya: ?Berdo?alah engkau pasti diijabah dan mintalah engkau pasti dipenuhi? (HR Ahmad 6/18, Abu Daud No. 1481, Tirmidzi No. 3476 dan 3477, Nasa?i 3/44 dan 45, Ibnu Hibban No. 1960 dengan sanad hasan)  

  1. Bertawassul kepada Alloh SWT dengan menyebut Janji-Nya.

    Hal tersebut sebagaimana firman Alloh SWT :

?Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS. Ali Imron :194)

Oleh karena itu kita boleh juga berdo?a : Allohumma Innaka Wa?adta Man Daa?ka Bil-Ijabati, Fastafib Du?aaii (Ya Alloh engkau telah menjanjikan kepada orang yang berdo?Allah SWT pada-MU akan dipenuhi, maka penuhilah do?aku ini).

  1. Bertawassul kepada Alloh dengan perbuatan-perbuatan-Nya (Af?aal)

    Sesorang boleh saja berdoa : ?Ya Alloh Wahai Dzat yang pernah menolong Muhammad SAW pada hari Badar maka tolonglah kami ata orang-orang yang kafir?. Hal ini sebagimana doa yang dibaca ketika tahiyyat.

  2. Bertawassul kepada Alloh dengan ibadah, baik ibadah hati, perbuatan maupun ucapan.

    Hal tersebut sebagaimana firman Alloh SWT:

?Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdo’a : “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.? (QS. Al-Mu?minun: 109).

Hal tersebut juga pernah dilakukan oleh tiga orang yang masuk ke dalam goa yang pintunya tertutup longsoran batu, ketiganya bertawassul dengan amal sholeh yang terbaik yang pernah mereka lakukan agar Alloh SWt menyelamatakan mereka semua. (HR Bukhori No. 2215 dan 2272, Muslim NO. 2743)

  1. Bertawassul kepada Alloh dengan menyebut keadaan dirinya baha ia sangat membutuhkan rahmat dan pertolongan Alloh SWT.

    Hal tersebut sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi Musa AS. :

Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku? (QS. Al-Qoshosh : 24 ).  

  1. Bertawassul dengan doa orang sholih dengan harapan agar Alloh memperkenankan doa orang tersebut.

    Dengan syarat orang tersebut adalah seorang muslim yang masih hidup. Hal tersebut pernah dilakukan oleh Anak-anak Nabi Ya?kub AS :

“Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah “. (QS. Yusuf : 97)

Hal tersebut juga pernah dilakukan oleh seorang sahabat yang meminta kepada Rasulullah SAW agar memohon kepada Alloh supaya Ia menurunkan hujan (HR Bukhori No. 1013 dan Muslim 897)

Tawassul Yang Terlarang :

  1. Bertawassul dengan perantaraan orang-orang yang mati, meskipun orang tersebut adalg orang yang sholeh.
  2. Bertawassul kepada benda-benda mati.

Tawassul kepada orang yang sudah mati adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam, karena mereka yang sudah mati tentu tidak bisa dijadikan perantaraan kepada Allah. Walau pun orang yang sudah mati itu orang shaleh sekalipun. Orang yang telah meninggal dunia memiliki kesibukan tersendiri dan juga memiliki posisi tersendiri pula.

Allah sudah memerintahkan kita untuk berdoa langsung kepada-Nya, karena Allah itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Sehingga tidak ada permintaan atau doa yang tak didengar-Nya. Hanya masalahnya, apakah semua doa dan permintaan itu pasti dikabulkan saat itu juga ? Tentu semua terpulang kepada Allah SWT.

Terkabulnya doa dan permintaan kepada Allah tidak bisa dipengaruhi oleh orang lain. Apalagi oleh orang yang sudah wafat. Karena setiap orang memiliki urusan dan hubungan tersendiri dengan Allah. Kalau mau minta sesuatu, maka mintalah langsung kepada-Nya dan jangan gunakan perantaraan orang lain.

Datang ke kuburan dengan niat menjadikan ruh yang ada di kuburan itu sebagai perantara doa kita kepada Allah SWT adalah contoh tawassul yang dilarang. Apalagi bila mintanya bukan kepada Allah tapi malah kepada arwah mayat orang dalam kubur itu, maka jelas ini perbuatan syirik yang nyata.

Praktek seperti ini sayangnya masih sering terjadi di dunia Islam, bahkan lebih buruk lagi, yang diminta malah nomer judi buntut, atau minta panjang jodoh, murah rezeki, dagangan laris dan usaha lancar. Atau minta pengasih dan pelet agar bisa menggaet wanita atau pria lain. Sungguh merupakan pelanggaran atas larangan yang berlapis-lapis Apakah Hadist dibawah ini shahih? Sayyidina Umar sendiri pernah bertawassul kepada orang yang lebih rendah daripada Nabi yaitu Sayyidina Abbas RA (bapak saudar Nabi SAW). Hadits ini ada di dalam kita Fathul Bahri muka surat 150: “Dari Anas bin Malik, bahwa Sayyidina Umar RA apabila mereka ditimpa kemarau dia memohon hujan dengan bertawassulkan Abbas bin Abdul Muthalin dengan
katanya: Ya Allah, saya telah bertawassul kepada Engkau dengan Nabi kami maka Engkau telah turunkan hujan, dan sekarang kami bertawassul kepada Engkau denga bapa saudara Nabi. Maka kami turunkanlah hujan itu”. Maka turunlah hujan diatas mereka (Riwayat Bukhari) 
Hadis di atas memang shohih diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari sahabat Anas bin Malik Ra. Untuk lebih jelasnya anda buka shohih Bukhori Jilid I halaman 342 No. 964 Bab Orang-orang meminta kepada imam supaya Allah menurunkan hukan jika terjadi musim kemarau dan Jilid III halaman 1360 No. 3507 Bab penyebutan nama Al-Abbas bin Abdul-Muthalib.

Hadis di atas menegaskan tentang kebolehan bertawassul dengan orang yang sholeh serta masih hidup dan orang tersebut hadir pada saat bertawassul. 
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Cara Sholat Berjamaah untuk Wanita

23 June 2006 at 12:12 pm | Posted in Fiqih | 5 Comments

1. Jika wanita berjamaah sesama wanita lagi, maka posisi imam berada ditengah-tengah dan sejajar dengan makmum. Dalilnya dalah sebagai berikut:

Sesungguhnya Nabi s.a.w. mengangkat seorang muadzin bagi Ummu Waraqah, dan membolehkan baginya untuk mengimami penghuni rumahnya, atau para wanita saja. (HR. Ibnu Majah).

Aisyah Radhiyallahu Anha mengimami para wanita dan berdiri bersama mereka dalam satu shaf. Demikian juga yang dilakukan oleh Ummu Salamah. Sebagian imam berpendapat bahwa jika wanita menjadi imam bagi wanita lagi, dia berdiri sejajar dalam shaf dan tidak berdiri di depan. Tetapi kalau dia berdiri di depan, maka shalatnya dan shalat makmum sah karena tidak ada satu pun dalil yang melarangnya.

2. Berimam kepada ikhwan yang non muhrim dibolehkan dengan syarat tidak hanya berdua (tapi harus disertai mahramnya), karena jika hanya berdua, maka akan termasuk khalwat yang dilarang oleh Rasulullah, sekalipun untuk melakukan shalat. Posisi wanita adalah dibelakang imam sekalipun dia sendirian, dalilnya adalah sebagai berikut:

Imam Abdurrazaq dan Malik meriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, dari Anas bin Malik dari neneknya, Mulaikah, bahwa dia mengundang Nabi s.a.w. untuk mencicipi makanan yang dibuatnya, lalu beliau makan dan berkata, “Bangunlah kalian marilah kita shalat.” Anas berkata, “Lalu aku beranjak ke tikar kami yang telah menghitam karena sering dipakai dan memercikinya dengan air. Nabi bangkit, maka aku dan anak yatim berada pada satu barisan (shaf) di belakang dan wanita berada di belakang kami, lalu beliau shalat dua rakaat bersama kami. Setelah itu beliau pergi. Shahih Bukhⲩ 2/352.

Ust. Iman Sulaiman Lc.

Sumber : http://syariahonline.blogspot.com/2005/07/cara-sholat-berjamaah-untuk-wanita.html

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.