Miracle Thing…

3 May 2007 at 2:42 pm | Posted in My Diary | 33 Comments

Subhanallah…. Alhamdulillah …

Dah 3 bulan lebih ada seorang pendamping hidup yg sabar dan menyenangkan … menemani hari2ku …🙂 … Jazakillah khoir atas doa teman2 …

Allah benar2 memberikan karunia dan amanah yg besar.

Menikah … Hmm … tidak menyangka secepat ini😀 … meski sudah dalam benak ingin menikah di usia segini… Allah dah mengabulkannya🙂 … eitttsss jangan salah …. menikah perlu juga persiapan …. terutama persiapan ruhyah … dan segala pernak perniknya …. buanyaaaakkkk banget … meski sejak kuliah dah nyicil2 …(indonesianya apa yah nyicil ?) ternyata … banyak hal yg masih perlu dipelajari.

Bagi teman2 yang ingin menikah …. harus nyiapin sejak dini. Jangan bertanya ‘kenapa aku blum menikah?’ , tapi tanyakan ‘Apakah aku sudah siap menikah?’ …. ingin jodoh yg baik …. pertanyaannya ‘Apakah aku sudah cukup baik untuk mendampingi seorang yg baik?’

Klo sudah menikah … muncul pertanyaan ‘Loh kok begini?’ . Jika saat menikah sudah mempunyai harapan2 besar soal pasangan, mugkin hal ini perlu dikoreksi …. yg ada adalah komitmen … komitmen untuk tujuan yg lebih hakiki …. ingat teman …. Tujuan pernikahan sampai dengan di akhirat kelak … Smoga kita akan dikumpulkan dalam jannah-Nya … amiin🙂 … Jadilah yang seorang istri yg terbaik untuk suami atau Jadilah seorang suami yang baik untuk seorang istri …. Hmmm… ini jadi pelajaran bwt rumah tanggaku juga🙂 … Kami sedang belajar …. dan ingin berbagi pengalaman dg teman2 smua … insyaAllah untuk kebaikan …

 He3 …. ndak terasa dah nulis banyak😛 …. Oh yah … maaaaaaaaaaaaappp …. afwan kabir … dah lama ndak nulis blog, ndak njawab komen temen2 … dimaapin yak …:) Jazakillah khoir …

Let’s start to coloring my Blog😀

Pudarnya Pesona Cleopatra

15 November 2006 at 2:55 pm | Posted in Taujih | 32 Comments

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan
aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana
adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu”
kata ibu.”Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan
besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon
keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku
menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi
mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun
sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja
dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian
tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan
dengan air mata ibu yang amat kucintai.

Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida
adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang
kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana
cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante
Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan
gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih
jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan
bibir yang merah.

Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit
cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin
memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan
datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta,
Pestapun meriah dengan hiburan group rebana. Lantunan shalawat Nabipun
terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku
terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah
mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.
Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota

Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa
susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama
dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku
belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh
tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana
mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh
rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan
kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak
acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang
kerja.Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia,
pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia. Tidak hanya aku yang tersiksa,
Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka
diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum
dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga”.

Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ”
kenapa mas memanggilku mbak, aku
kan istrimu, apa mas sudah tidak
mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam”
jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama
kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak
mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?
Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa
mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”.
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena
Raihana tetapi karena kepatunganku.

Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup
seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya
untukku. Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis
maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas
kopi buatan Raihana tadi pagi. Memang aku berangkat pagi karena ada janji
dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa”
tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku
sedang menggodoknya,
lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua
pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara
sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk,
tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan
wedang jahe”. Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak
bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku
dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. ” Mas
masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam,
minyak putih, atau jamu?” tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas
jangan diam saja dong, aku
kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk
membantu Mas”. “Biasanya dikerokin” jawabku lirih. ” Kalau begitu kaos mas
dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambiltangannya melepas kaosku.
Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin
punggungku dengan sentuhan tangannya yanghalus. Setelah selesai dikerokin,
Raihana membawakanku semangkok buburkacang hijau. Setelah itu aku merebahkan
diri di tempat tidur. KulihatRaihana duduk di kursi tak jauh dari tempat
tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin
menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan
Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk
makan malam di istananya.”Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan
aku perkenalkan denganmu”kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk
mencarikannya seorang pangeran,aku melihatmu cocok dan berniat
memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat pukul 07.00
aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik
sekali. Sang ratu mempersilakanakududuk di kursi yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat duduk,tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam
setengah empat, mas belum sholat Isya”kata Raihana membangunkanku. Aku
terbangun dengan perasaan kecewa. “Maafkanaku Mas, membuat Mas kurang suka,
tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hanasambil melepas mukenanya, mungkin
dia baru selesai sholat malam. Meskipuncuman mimpi tapi itu indah sekali,
tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus
harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat
baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana
sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara
dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri
belumpernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis
titisanCleopatra.” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua
keluarga akandatang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang
bareng,tidakenak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang”
Suara lembutRaihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm.
Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas
wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja.
“Maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan
beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. “Mbak! Eh maaf, maksudku… Dinda
Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya
Mas!”sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan
menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia
dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Terima kasih dinda, kita
berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil
menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku dengan
wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. “Terima kasih
Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda
siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”.

Hana begitu bahagia. Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap
sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama
ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka
padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah,
lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki
diriku sendiri atas sikapdinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta
yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan
Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang
paling membenci diriku sendiri didunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa
sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana,
kamidielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.
“Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal
dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan
ibundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya
berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut
pasangan ideal. Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana
lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal
bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta
yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi
memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik
meneteskan rasa bahagia. Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti
yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar
hangat.Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga
kewibawaanku dimata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah
diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang
dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku
sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan
mertuaku yang menyindir tentang keturunan. “Sudah satu tahun putra sulungku
menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang
cucu” kata ibuku. “Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu,
doakanlah kami. Bukankahbegitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut
lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.Setelah peristiwa itu, aku
mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra
dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan
atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua
demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai
seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis. Keluarga bersuka cita semua.
Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah
hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga
Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku
bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. ”
Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku. Dan akhirnya datanglah
hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan keenam. Raihana minta ijin
untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan
permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karenarumah mertua jauh dari
kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus
tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, “Mas untuk
menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada
di ATM. Aku taruh dibawah bantal, nomor pinnya sama dengan tanggal
pernikahan kita”.

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku
tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya
bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.Tapi
toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di
Mesir.Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat
aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku
benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan
perutmual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah
menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin
dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku
dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku
terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati,
aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa,
andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak
terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi
aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen
mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab
dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam
pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab
dari
Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman
hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah
menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang
mana?. “Orang Jawa”. “Pasti orang yang baik ya. Iya
kan? Biasanya pulang
dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan
shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari
pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”.
“Kausangat beruntung, tidak sepertiku”. “Kenapa dengan Bapak?” “Aku
melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang
Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu
bisa terjadi?”. “Kamu tentu tahu
kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan
karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya
begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke
Mesirdengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil,
orang
Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya
lulusdengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari

Indonesia. Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan
rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak
gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama
saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya
bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan
saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil.
Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau
sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika saya
menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama
menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang
hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada
denganYasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk
menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin. Yasmin
menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang
mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali keMedan,
saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami
langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota
Medan. Tahun-tahun pertama
hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok
orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup
terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir,
tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak
setiap tahun tetapi tiga tahun sekali Yasmin tidak bisa. Aku mati-matian
berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir
milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan.
Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidupdengan tenang
dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisaberdakwah dengan
baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan.
Jika saya pengin rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan
masakan
Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya
dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak
penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta
Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapidia tidak mau. Dia malah
membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya
mendapat suami orang Mesir. Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas
segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan
saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah,
yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya
menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang
bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke
Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. “Aku menyesal
menikah dengan orang
Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa
bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. KataYasmin yang bagaikan geledek
menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwatadi di KBRI dia bertemu
dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah
meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan.
Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya
dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang
membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim
surat yang berisi
berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu
saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan
surat nikah
Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau
meminta ibunya pulang”.

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya
menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku,
tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan
yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta
apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena
kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum
terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang
sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan
bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar
aku mencairkan tabungannya. Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took
baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian
bayi.  Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut
kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk
mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu
kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat
cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat
surat cinta untuk istriku.
Jangan-jangan ini
surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila!
Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca
surat itu satu
persatu. Dan Rabbi ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana
yang selamaini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku,
meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa
dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan
dukanya. Dan ya Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan
suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya
Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu
yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan.
YaRabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana. Dalam
akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh
noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini
kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita
dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan
menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa
kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang
masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang
lebih mulia lagi pada suamiku. Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan
murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah
dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah
hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha
Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini
kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah
dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali
Engkau, Maha Suci Engkau”.

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang
luarbiasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana
terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya
yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh
memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta.
Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk
dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta
Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihana tiba-tiba
begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat
dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk
membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring
dengan airmataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman
rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan
kuusap airmataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis
tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu
mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang
telahterjadi.” Raihana istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya”. ”
Ada
apa dengan dia”. “Dia telah tiada”. “Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah
meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya
ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia
berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya
selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia.
Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta
kau meridhionya”. Hatiku bergetar hebat. “Kenapa ibu tidak memberi kabar
padaku?”. “Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus
seseorang untukmenjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada.
Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak
ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu
ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat
sedih, Jadi maafkanlah kami”. Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku
remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin
menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia
telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku
untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku
dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira. Ibu mertua mengajakku
ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas
gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis
disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang
luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua

Sumber :Buku: Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun
Jiwa )

Karangan: Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat
cinta) 

Renungan di Ujung Ramadhan

16 October 2006 at 7:31 pm | Posted in Taujih | 5 Comments

Ya Allah, kaki ini meniti lemah anak tangga diantara gelap masjid-Mu. Malam ini sudah masuk 10 malam terakhir Ramadhan, malam ke-24 dari untaian malam berkah.
Hati berseru takbir dengan kepalan jari-jari lemas terurai lagi. Ya Allah ijinkanlah aku menjumpaimu pada malam-malam terakhir ini, setelah sekian malam aku hanya bergulat dengan dunia. Seharian aku dikejar amanah pekerjaan dan mengurusi keluarga, yang semakin menghabiskan waktuku.
Bahkan aku terpaksa harus “i’tikaf” di kantor mengingat target pekerjaan yang tak mengenal toleransi. Malam ini, aku ingin bercumbu penuh khusuk dengan-Mu, dengan tubuh diselimuti gigil ngilu.
Bacaan Al-Qur’anku tertinggal waktu. Malu pada jam yang tetap istiqomah berputar, tapi amalanku tak pernah mau untuk istiqomah berjalan. Tarawih dan Qiyamu Lail semau gue, apakah Engkau terima ya Rabb ? hanya Engkau yang maha menentukan hasil dari semua usaha, aku tak sanggup mendengarkan hasil perhitunga-Mu saat ini.
Amalanku yang dijejali riya’ semoga Engkau ampuni. Berapa kali shadaqohku?
Ah lagi-lagi aku malu pada kotak shodaqoh, pada tangan kanan kiri yang selalu melihat ketika kurogoh uang saku. Yang kumasukkan hanya secarik uang kertas yang paling kecil dan lusuh.
Ramadhan kali ini menyisakan sayatan pilu di ruhaniku. Aku tak mampu menghisab diri dari kebaikan dan keburukan, dari amalan dan dosa, apalagi dari ikhlas dan riya’.
Bukan terlalu banyak, tapi terlalu kecil dan tak ter-indera. Semuanya aku kembalikan pada-Mu, 23 hari kulewati tanpa makna secuil pun yang tergores di kalbu. Bukan ini mauku … Bukan ini tujuanku …
Tapi inilah yang sudah kudapat sampai saat ini … Sebuah keterlambatan …
Ya Allah, terangkanlah padaku tentang makna keterlambatan. Semuanya sudah berjalan jauh, tapi aku masih berlari kecil di tempat. Lelah ini kulahap sendiri. Ingin rasanya berlari sekencang mungkin untuk menyusul mereka yang telah jauh.
Ya Allah, berikanlah hamba keluangan dan kesempatan untuk menangis di pangkuan-Mu, untuk mengejar keterlambatan ini.
Ya Allah, ijinkanlah hamba-Mu ini memulai lagi. Merangkai malam-malam sunyi menjadi parade dzikir untuk-Mu. Mencuci diri dari noda, yang entah dari mana harus kumulai membersihkannya. Merangkak menggapai maghfirah-Mu.
Ramadhan masih tersisa beberapa hari lagi. Dan masih ada Lailatul Qadar yang senantiasa menunggu jelmaan manusia-manusi yang Dia ridhoi.
Aku sangat menyadari betapa tidak pantasnya diri ini menerima anugerah-Mu itu. Tapi, apakah salah jika manusia dungu dan hina ini menginginkan syurga-Mu ya Rabb? …
Ya Allah … Ya Rabb … ijinkanlah aku menapaki keterlambatan dengan beribu semangat juang.
Agar aku bisa sampai kehadirat-Mu seperti juga mereka yang telah sampai mendahuluiku.
Ijinkanlah aku mendapatkan anugerah Lailatul Qadar-Mu. Mungkin untuk yang pertama kali, dan mungkin untuk sekali-kalinya dalam hidup ini.
Karena aku tidak tahu apakah tahun depan bisa berjumpa Ramadhan lagi dan berjuang bersama mendapaat anugerah-Mu itu.

Dari sebuah sumber … yang menggores kalbu.

1 Tamparan untuk 3 Pertanyaan

16 October 2006 at 7:29 pm | Posted in Taujih | 3 Comments

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri,
kembali ke tanah
air.
Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya
untuk mencari
seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa
menjawab 3
pertanyaannya.
Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang
tersebut, seorang kiyai.

Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab
pertanyaan-pertanya an saya?
Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan
menjawab
pertanyaan anda.

Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai
orang yang pintar
tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.

Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1.Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhan
kepada saya 2.Apakah
yang dinamakan takdir 3.Kalau syaitan diciptakan dari
api kenapa
dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak
menyakitkan buat
syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah
Tuhan tidak
pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi
dengan keras.

Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah
kepada saya?
Kiyai : Saya tidak marah.Tamparan itu adalah jawaban
saya atas 3
pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.

Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
Kiyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?

Pemuda : Ya!
Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!

Pemuda : Saya tidak bisa.
Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama.kita semua
merasakan
kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar
oleh saya?
Pemuda : Tidak.

Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima
tamparan dari
saya hari ini?
Pemuda : Tidak.

Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.

Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan
untuk menampar anda?
Pemuda : Kulit.

Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda : Kulit.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Sakit.

Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka
juga terbuat dari
api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi
tempat yang
menyakitkan untuk syaitan.

Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu
wata’ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah
bila diamalkan, salah satu
pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu
kepada yang
membutuhkan.

Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena
jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak ilmu itu
akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak
tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah
ilmu itu sebatas yang engkau mampu.

Weblogic and Birt Problem

5 October 2006 at 8:28 am | Posted in Java | 2 Comments

Hampir setengah harian mencari solusi untuk menyelesaikan problematika ini L. Birt merupakan salah satu tools untuk membuat report atau dikenal dengan Report Engine. Bisa dilihat dengan klik link ini

http://www.eclipse.org/birt/phoenix/tutorial/basic/index.php. Klo weblogic server itu fungsinya mirip dengan apache web server (blum begitu paham juga sih). Nah ada masalah ketika menggunakan keduanya dalam aplikasi web. Error yang bakal terjadi seperti ini :

java.lang.LinkageError: loader constraints violated when linking org/mozilla/javascript/Scriptable classat org.eclipse.birt.report.engine.api.impl.ReportEngine.registerBeans(ReportEngine.java:174)at org.eclipse.birt.report.engine.api.impl.ReportEngine.setupScriptScope(ReportEngine.java:121)at org.eclipse.birt.report.engine.api.impl.ReportEngine.(ReportEngine.java:87)at org.eclipse.birt.report.engine.api.impl.ReportEngineFactory.createReportEngine(ReportEngineFactory.java:13)at org.eclipse.birt.report.service.ReportEngineService.setEngineContext(Unknown Source)at org.eclipse.birt.report.service.BirtViewerReportService.setContext(Unknown Source)at org.eclipse.birt.report.servlet.BirtEngineServlet.__getContext(Unknown Source)at org.eclipse.birt.report.servlet.BaseReportEngineServlet.doGet(Unknown Source)at javax.servlet.http.HttpServlet.service(HttpServlet.java:740)at org.apache.axis.transport.http.AxisServletBase.service(AxisServletBase.java:327)at javax.servlet.http.HttpServlet.service(HttpServlet.java:853)at weblogic.servlet.internal.ServletStubImpl$ServletInvocationAction.run(ServletStubImpl.java:1006)at weblogic.servlet.internal.ServletStubImpl.invokeServlet(ServletStubImpl.java:419)at weblogic.servlet.internal.ServletStubImpl.invokeServlet(ServletStubImpl.java:315)at weblogic.servlet.internal.WebAppServletContext$ServletInvocationAction.run(WebAppServletContext.java:6718)at weblogic.security.acl.internal.AuthenticatedSubject.doAs(AuthenticatedSubject.java:321)at weblogic.security.service.SecurityManager.runAs(SecurityManager.java:121)at weblogic.servlet.internal.WebAppServletContext.invokeServlet(WebAppServletContext.java:3764)at weblogic.servlet.internal.ServletRequestImpl.execute(ServletRequestImpl.java:2644)at weblogic.kernel.ExecuteThread.execute(ExecuteThread.java:219)at weblogic.kernel.ExecuteThread.run(ExecuteThread.java:178).  

Ketika menggunakan BIRT sbg report engine, jangan lupa untuk melakukan perubahan pada file web.xml, seperti panduan dalam installasi BIRT. Di bawah ini contoh isi web.xml yang sudah digabung untuk pemakaian framework struts :

<?xml version=”1.0″ encoding=”UTF-8″?> 

<!DOCTYPE web-app    PUBLIC “-//Sun Microsystems, Inc.//DTD Web Application 2.3//EN”    http://java.sun.com/dtd/web-app_2_3.dtd”&gt;<web-app> 

  <display-name>Cardio Re-Engineering</display-name>  <description>Cardio Re-Engineering Application Demo</description> 

  <context-param>    <param-name>BIRT_VIEWER_LOCALE</param-name>    <param-value>en-US</param-value>  </context-param> 

  <context-param>    <param-name>BIRT_VIEWER_WORKING_FOLDER</param-name>    <param-value></param-value>  </context-param> 

  <!– If usr can only access the reprot under working folder. Default is true –>  <context-param>    <param-name>WORKING_FOLDER_ACCESS_ONLY</param-name>    <param-value>false</param-value>  </context-param> 

  <!– Absolute downloaded image/chart directory. Default to ${birt home}/report/images –>  <context-param>    <param-name>BIRT_VIEWER_IMAGE_DIR</param-name>    <param-value></param-value>  </context-param> 

  <!– Absolute engine log directory. Default to ${birt home}/logs –>  <context-param>    <param-name>BIRT_VIEWER_LOG_DIR</param-name>    <param-value></param-value>  </context-param> 

  <!– Report engine log level –>  <context-param>    <param-name>BIRT_VIEWER_LOG_LEVEL</param-name>    <param-value>OFF</param-value>  </context-param> 

  <!– Absolute directory to store all birt report script libraries (JARs). Default to ${birt home}/scriptlib –>  <context-param>    <param-name>BIRT_VIEWER_SCRIPTLIB_DIR</param-name>    <param-value></param-value>  </context-param>    <!– Absolute resource location directory. –>  <context-param>    <param-name>BIRT_RESOURCE_PATH</param-name>    <param-value></param-value>  </context-param> 

  <!– Preview report max rows limited. –>  <context-param>    <param-name>BIRT_VIEWER_MAX_ROWS</param-name>    <param-value></param-value>  </context-param> 

  <!– Viewer Servlet Context Listener –>  <listener>    <listener-class>org.eclipse.birt.report.listener.ViewerServletContextListener</listener-class>  </listener> 

<servlet>    <servlet-name>action</servlet-name>    <servlet-class>org.apache.struts.action.ActionServlet</servlet-class>    <init-param>      <param-name>config</param-name>      <param-value>/WEB-INF/struts-config.xml</param-value>    </init-param>    <init-param>      <param-name>debug</param-name>      <param-value>2</param-value>    </init-param>    <init-param>      <param-name>detail</param-name>      <param-value>2</param-value>    </init-param>    <load-on-startup>2</load-on-startup>  </servlet>      <servlet>      <servlet-name>ViewerServlet</servlet-name>      <servlet-class>org.eclipse.birt.report.servlet.ViewerServlet</servlet-class>    </servlet>      <servlet>      <servlet-name>EngineServlet</servlet-name>      <servlet-class>org.eclipse.birt.report.servlet.BirtEngineServlet</servlet-class>    </servlet>      <servlet-mapping>      <servlet-name>ViewerServlet</servlet-name>      <url-pattern>/frameset</url-pattern>    </servlet-mapping>        <servlet-mapping>      <servlet-name>EngineServlet</servlet-name>      <url-pattern>/run</url-pattern>    </servlet-mapping>      <servlet-mapping>      <servlet-name>EngineServlet</servlet-name>      <url-pattern>/download</url-pattern>    </servlet-mapping>      <servlet-mapping>      <servlet-name>EngineServlet</servlet-name>      <url-pattern>/parameter</url-pattern>  </servlet-mapping>   

  <servlet-mapping>    <servlet-name>action</servlet-name>    <url-pattern>*.do</url-pattern>  </servlet-mapping> 

  <session-config>    <session-timeout>30</session-timeout>  </session-config> 

  <welcome-file-list>    <welcome-file>index.jsp</welcome-file>  </welcome-file-list> 

  <taglib>    <taglib-uri>struts-bean</taglib-uri>    <taglib-location>/WEB-INF/tld/struts-bean.tld</taglib-location>  </taglib> 

  <taglib>    <taglib-uri>struts-html</taglib-uri>    <taglib-location>/WEB-INF/tld/struts-html.tld</taglib-location>  </taglib> 

  <taglib>    <taglib-uri>struts-logic</taglib-uri>    <taglib-location>/WEB-INF/tld/struts-logic.tld</taglib-location>  </taglib>    <!–   <security-constraint>    <web-resource-collection>      <web-resource-name>        Restrict access to JSP pages      </web-resource-name>      <url-pattern>*.jsp</url-pattern>    </web-resource-collection>    <auth-constraint>      <description>        With no roles defined, no access granted      </description>    </auth-constraint>  </security-constraint>   –>  </web-app> 

 

Problem di atas disebabkan karena class loading, masalahnya … gmn cara merubah Class loader mode dalam WL(weblogic) Server, sehingga Application class diload pertama kali, dalam hal ini adalah BIRT. Meski solusi yang akan dijelaskan di bawah ini bukan solusi yang bagus, karena harus di set manual, bukan pada file konfigurasinya. Moga ada yg mo kasih solusi yang lebih baik dari ini.

Salah satu solusi yaitu dengan melakukan perubahan pada weblogic.xml

Set tag <prefer-web-inf-classes> menjadi false. Di bawah ini contoh isi file weblogic.xml

<?xml version=”1.0″ encoding=”UTF-8″?>   <!DOCTYPE weblogic-web-app     PUBLIC “-//BEA Systems, Inc.//DTD Web Application 7.0//EN”     http://www.bea.com/servers/wls700/dtd/weblogic700-web-jar.dtd&#8221; ><weblogic-web-app> 

  <container-descriptor>    <prefer-web-inf-classes>false</prefer-web-inf-classes>  </container-descriptor>    <context-root></context-root>

</weblogic-web-app>

Setelah melakukan perubahan itu, masih muncul error :

java.lang.NoSuchMethodError: org.mozilla.javascript.ImporterTopLevel.initStandardObjects(Lorg/mozilla/javascript/Context;Z)Vat org.eclipse.birt.core.script.ScriptContext.(ScriptContext.java:81) at org.eclipse.birt.core.script.ScriptContext.(ScriptContext.java:68) at org.eclipse.birt.report.engine.executor.ExecutionContext.(ExecutionContext.java:297)at org.eclipse.birt.report.engine.api.impl.EngineTask.(EngineTask.java:132) at org.eclipse.birt.report.engine.api.impl.GetParameterDefinitionTask.(GetParameterDefinitionTask.java:85) at org.eclipse.birt.report.engine.api.impl.ReportEngineHelper.createGetParameterDefinitionTask(ReportEngineHelper.java:254) at org.eclipse.birt.report.engine.api.impl.ReportEngine.createGetParameterDefinitionTask(Re … 

Solusinya dengan menambah js.jar ke dalam classpath sebelum starting weblogic. Klo di myeclipse, tinggal tambah jar di menu window>preference trus di pilih MyEclipse>Application Server>WebLogic 8>Paths Klik button Add JAR/ZIP di prepend to classpath. Dengan catatan Anda telah merubah konfigurasi WebLogic 8. Atau bisa juga ditambahkan pada startWebLogic.sh

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

7 September 2006 at 11:48 am | Posted in Taujih | 5 Comments

Dari Ibnu Abbas ra, ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

1.

Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur

2.

Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh

3.

Al auladun abrar, yaitu anak yang soleh

4.

Albiatu sholihah , yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita

5.

Al malul halal, atau harta yang halal

6.

Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama

7.

Umur yang baroqah

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah.

Wanita Pekerja Menurut Tinjauan Syariat (Kajian Akhwat DM)

25 August 2006 at 3:07 pm | Posted in Taujih | 23 Comments

Apa yang mungkin muncul jika wanita bekerja?

1.

Waktu lebih banyak di luar rumah

2.

Pertemuan dengan keluarga lebih sedikit

3.

Pengaruh kejiwaan (depresi, letih, emosi, kenyamanan, dll)

4.

Kebutuhan lebih besar

5.

Muncul keinginan mempercantik diri

6.

Gagal dalam mendidik anak dan keluarga

7.

Sering menggoncangkan rumah tangga

8.

Ingin seperti orang lain

9.

Bercampur baur antara laki-laki dan perempuan secara berlebihan

10.

Berbagai fitnah

 

Etika Interaksi Wanita Pekerja

1.

Izin suami

2.

Menutup aurat

3.

Menundukkan pandangan dan tidak melembutkan suara

4.

Serius

5.

Tidak berdekatan berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahromnya

6.

Menjauhi perilaku maksiat

 

Tinjauan Syariat

A. Al Quran
1. AT-TAUBAH : 71

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

2. AN-NUR : 31

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atay saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

3. AL-AHZAB : 32-33

Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti oraang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

B.

Hadist

1. HR. At-Tabrani

“Perempuan tidak berhak keluar rumahnya melainkan jika ia terpaksa (karena satu hal penting) dan ia juga tidak berhak melalui jalan lalu lalang melainkan tepi-tepinya”

2. HR. Bukhari

“Sesungguhnya telah diizinkan Allah bagimu (wanita) keluar untuk sesuatu keperluan (yang dibenarkan oleh syara’)”

3. HR.Ahmad

“Tidak sekali-kali seorang wanita dan laki-laki menyendiri (berduaan) karena yang ketiganya adalaah syetan, kecuali disertai muhrim”

4. HR. Khatib

“Tiap istri yang keluar rumah tanpa izin suaminya, tetap berada dalam murka Allah sehingga kembali ke rumahnya atau dimaafkan oleh suaminya”

5. HR. Ahmad, At-Tabrani

“Tiap-tiap waniita yang menggunakan harum-haruman, kemudian keluar melewati kelompok kaum, supaya dicium baunya oleh kelompok itu, maka ia telah berzina dan setiap yang memandangnya telah (ikut) berzina”

 

Hikmah

Islam tidak melarang wanita bekerja selama :

1.

Mendapat izin suami

2.

Merupakan kebutuhan mendesak

3.

Terhindar dari fitnah

4.

Menjaga rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam islam

5.

Tidak berlebihan dalam mencari harta

6.

Mengupayakan tawazun (keseimbangan) antara kerja, diri dan rumah tangga

7.

Sesungguhnya nafkah adalah kewajiban suami, oleh karenanya wanita yang punya kesempatan bekerja, berpeluang pula untuk bisa mendapatkan pahala dari sedekah dan infak yang dia keluarkan

(:(( g usah kerja ta? ato gmn :(???… Ya Allah selamatkanlah hamba …)

Ikhlas Dalam Niat

23 August 2006 at 9:53 am | Posted in Hadist | 5 Comments

“Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapat sesuatu mengikut kepada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasulnya. Barang siapa yang hijrah untuk mendapatkan dunia atau karena seorang perempuan yang ingin dikawininya, maka hijrahnya itu mengikut kepada apa yang diniatkannya’.” (Muttafaq ‘Alaih)

Kuatkan hati, kuatkan iman …

23 August 2006 at 9:50 am | Posted in Hadist | 2 Comments

“Sesungguhnya besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai kaum, Allah uji dengan cobaan. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan Allah. Barang siapa yang marah, maka baginya kemarahan Allah.” (Riwayat Ibnu Majah)

Agar Keluarga Kita Menjadi Penghuni Surga

23 August 2006 at 9:25 am | Posted in Taujih | 12 Comments

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapakah lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal ” (QS Ali Imran (3):133-136).

Surga? Tak satupun manusia yang tidak ingin surga. Namun, tidak semua manusia mau menyifati dirinya dengan sifat-sifat penghuni surga.

Surga, sebuah kata yang mampu mengobarkan semangat perjuangan generasi terbaik, para shahabat radhiyallahu ‘anhum agar dapat menjadi peghuninya, meski harus mengobarkan nyawa untuk meraihnya.

Namun, surga tidak gratis. Untuk memasukinya harus dengan tiket. Dan tiket masuknya adalah takwa dalam artian yang luas.

 

Kriteria Penghuni Surga

Ayat di atas memaparkan kriteria-kriteria orang yang bertakwa yang akan menghuni surga, yaitu :

1. Menafkahkan harta di waktu lapang maupun sempit
 

Salah satu cirri penghuni surga adalah ia suka berbagi. Selalu bersemangat untuk menafkahkan hartanya dalam kondisi apapun. Kelapangan tidak membuatnya sombong dan lupa terhadap saudaranya yang membutuhkan. Kesempitan tidak menjadikannya patah semangat berbagi dan banyak berkeluh kesah. Nilai-nilai takwa yang tertancap di hatinya mampu merobohkan kekokohan ‘tembok’ syahwat harta dan menghancurkan benih-benih kekikiran yang menyelimuti hati.

Karenanya menghidupkan ruhul ‘atha’ (semangat memberi/berbagi) dalam kehidupan rumah tangga adalah sebuah keniscayaan jika kita mengharapkan keluarga kita menjadi penghuni surga.

 

2.

Menahan amarah

 

Salah satu ciri penghuni surga adalah ia suka berbagi. Selalu bersemangat untuk menafkahkan hartanya dalam kondisi apapun. Kelapangan tidak membuatnya sombong dan lupa terhadap saudaranya yang membutuhkan. Kesempitan tidak menjadikannya patah semangat berbagi dan banyak berkeluh kesah. Nilai-nilai takwa yang tertancap di hatinya mampu merobohkan kekokohan ‘tembok’ syahwat harta dan menghancurkan benih-benih kekikiran yang menyelimuti hati.

Karenanya menghidupkan ruhul ‘atha’ (semangat memberi/berbagi) dalam kehidupan rumah tangga adalah sebuah keniscayaan jika kita mengharapkan keluarga kita menjadi penghuni surga.

Hanya pancaran sinar takwa yang mampu meredam dan meredupkan ‘nyala’ marah. Keperkasaan seseorang tidak ditandai dengan kekekaran otot tubuhnya, melainkan ditandai dengan “ kemampuan untuk mengendalikan diri di saat marah ” sebagaimana sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim (Tafsir Ibnu Katsir I/436).

3. Mema’afkan kesalahan orang
 

Seseorang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan oran g lain bukan saja menjadi hamba yang mulia dalam perspektif Robani dan Nabawi, tetapi juga disukai oleh sesama, termasuk keluarga.

Karenanya pantas ia menjadi penghuni surga di akhirat sebab ia telah menghadirkan surga dalam kehidupannya di dunia.

4. Apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah, tidak meneruskan perbuatan kejinya itu lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka
 

Orang yang bertakwa, calon penghuni surga bukanlah malaikat yang tanpa dosa. Ia manusia biasa, melekat padanya seluruh atribut kemanusiaannya. Hanya saja dominasi nilai-nilai positif (takwa) dalam dirinya mampu menjadikannya menjadi oran g cerdas dalam membaca situasi sehingga mengetahui benar apa yang mesti ia perbuat.

Selama seseorang ingat Allah, selama di hatinya terdapat deringan dzikir, dan selama di dalam ruhnya terdapat percikan istigfar, maka akan terbit kembali cahaya yang memancarkan sinar terangnya ke seluruh relung jiwa. Sehingga menyemangati pemiliknya untuk membuka lembaran-lembaran hidup baru dalam naungan ridha Illahi.

 

Agar seluruh anggota keluarga kita menjadi penghuni surga, kita harus mengerahkan seluruh waktu, tenaga, kemampuan dan harta kita untuk mengkondisikan, mendidik dan membina mereka sehingga mereka memiliki kriteria-kriteria tersebut di atas. Namun, semua itu perlu waktu dan harus kontinyu. Tidak semudah membalik telapak tangan. Wallahu a’alam bish showab

Dikutip dari Ummi No.4/XVII Agustus 2006

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.